Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah

Dirjen Pendis: Pendidikan Islam Berkontribusi pada Perdamaian

Berita   11/06/2017   by Madrasah

Bogor—(KSKK Madrasah) Sebagai negara yang majemuk dari sisi etnis, suku, ras agama dan keyakinan (multikultural), Indonesia memiliki potensi konflik dan gesekan yang cukup tinggi. Oleh sebab itu, diperlukanlah penumbuhan kesadaran dan kemampuan untuk mengelola keragaman tersebut. Upaya-upaya ini harus terus menerus diwujudkan oleh seluruh komponen bangsa sesuai dengan kapasitas dan perannya masing-masing. Tak terkecuali dunia pendidikan.

Dalam kerangka inilah, Direktorat Kurikulum, Sarana, Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah menyelenggarakan Sosialisasi Pendidikan Multikultural di Madrasah pada 8-10 Juni 2017 di Bogor. Kegiatan sosialisasi ini dihadiri oleh 30 kepala Madrasah (baik dari MI, MTs maupun MA) dari berbagai kabupaten di Jawa. Sosialisasi ini juga dihadiri oleh Dirjen Pendis, Prof, Dr, Phil. H. Kamaruddin Amin, MA., Direktur KSKK Madrasah, Prof. Dr. Phil. M. Nur Kholis Setiawan, MA., Kasubdit Kurikulum KSKK Madrasah, Dr. Basnang Said, Kasubbag TU KSKK Madrasah, Papay Supriatna, M.Pd. dan juga menghadirkan dua pembicara ahli di bidang Islam dan Multikultural, Dr. Fuad Thohari, MA., dan pengamat-pengkaji Radikalisme, Dr. Khamami Zada, S.Ag., MA, MECDP.

Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amain, MA. (Kamis, 8/6). Dalam sambutannya, Dirjen Pendis mengungkapkan bahwa pendidikan Islam, termasuk madrasah, pesantren dan perguruan tinggi Islam memiliki kontribusi yang fundamental bagi perdamaian di Indonesia.

“Saya sering menyampaikan begini. Indonesai dengan disparitas demografi dan disparitas lokal yang sangat tajam,  dengan keragaman yang begitu tinggi, Indonesia tetap mampu mempertahankan kehidupan yang toleran dan  damai. Tentu ini tidak terlepas dari kontribusi lembaga pendidikan Islam kita,” ungkap Dirjen Pendis.

Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin MA, menambahkan bahwa pendidikan Islam di Indonesia ini mengajarkan toleransi dan menghargai perbedaan. Sehingga pendidikan Islam di Indonesia mampu membentuk dan melahirkan generasi yang damai.

“Coba kita bayangkan, apabila ada lembaga pendidikan, misalnya 1 persen atau nol koma sekian persen, mengajarkan ekstrimisme dan intoleransi, kiranya dapat dipastikan Indonesia bakal kerepotan dalam mengelola keragaman ini,” jelas Kamaruddin Amin.

Bila dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki penduduk mayoritas muslim, secara empiris Indonesia mampu mengelola keragaman dan hidup secara damai.

Sosialisasi Pendidikan Multikultural merupakan ikhtiar untuk membentengi seluruh civitas akademika madrasah dari serangan-serangan intoleransi, eksklusivisme, ekstrimisme dan radikalisme.[hamam]

Share :