Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah

Teknologi Untuk Beramal, Tak Sekedar Pengetahuan

Opini   12/02/2016   by Madrasah

Hari ini, kita semua, yang hidup di era sekarang layak dan sangat patut bersyukur karena diberi kemudahan dalam banyak hal dibanding umat-umat sebelum kita. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi umat manusia mengalami kemajuan yang tak pernah terbayangkan oleh umat-umat terdahulu.
Teknologi
Teknologi
Bagi umat Islam contoh yang paling nyata adalah Al-Qur’an. Kitab Suci bagi Muslim ini sekarang jauh lebih mudah dan nyaman dibaca dibanding mushaf Al-Qur’an yang dimiliki umat periode awal, terutama para sahabat dan tabi’iin. Kini Al-Qur’an dengan harakat, tanda baca, bahkan keterangan tajwidnya disertakan untuk mempermudah membacanya.
Padahal dulu Al-Qur’an tanpa harakat, bahkan tanpa titik, yang tentu tanpa belajar sungguh-sungguh akan sulitlah hanya untuk sekedar mampu membacanya. Demikian pula buku-buku, dari ilmu fikih, hadist, tasfir, dan lain sebagainya, segala ilmu, begitu mudah kita peroleh di toko-toko buku dan perpustakaan.
Kehadiran internet, DVD, dan alat-alat elektronik lainnya telah memberi jalan super cepat bagi kita semua untuk belajar tentang Islam. Belum lagi acara televisi dari subuh, setiap hari, pasti ada siraman rohani yang dapat kita nikmati di mana saja. Tinggal pencet remot, tittt, maka acara keagamaan bisa kita saksikan dengan beragam pilihan.
Kami yakin, sebagian besar dari kita sudah belajar dengan aneka media yang menghampar begitu banyaknya. Lewat handphone yang kita pegang, berbagai aplikasi, data, dan layanan memberi kemudahan kita setiap saat untuk belajar memperdalam ilmu agama kita.
Dengan berbagai kemudahan belajar itu sudah sewajarnya jika era kita sekarang lebih pintar, lebih berpengetahuan, dan lebih beradab dibanding era-era sebelumnya. Tak salah jika ada yang mengatakan, satu edisi koran Kompas harian, isinya jauh lebih banyak dari apa yang dipelajari oleh manusia awam abad 16 dan 17. Bayangkan, itu baru satu hari koran yang kita baca, belum televisi, majalah, jurnah, pengajian, pendidikan formal dst. Artinya, sekali lagi, pengetahuan manusia era sekarang, Muslim saat ini, dengan Muslim sebelumnya seharusnya lebih banyak, lebih luas dan beraneka ragam.
Tetapi jika kita melihat realitas sekeliling kita; grafik kejahatan, dari pembunuhan, kekerasan, korupsi dan lain sebagainya, tidak menurun tapi cenderung naik. Kecelakaan lalu lintas, bencana alam, terutama banjir, bukan berkurang tapi bertambah dan terus bertambah.
Apa kaitannya kejahatan dan bencana dengan berbagai kemudahan belajar yang kita miliki? Jelas, sangat jelas berkaitan. Sebab berbagai kejahatan dan bencana itu tidak lepas dari perilaku kita.
Di sini tampak gap yang nyata antara pengetahuan atau ilmu dengan amal yang dilakukan. Ilmu kita banyak, tetapi amal kita terhadap ilmu itu kurang, bahkan nol, atau mungkin lebih parah, minus. Diperintahkan melakukan kebaikan dan dilarang melakukan keburukan, tetapi prakteknya melakukan keburukan dan kurang melaksanakan kebaikan.
Kita saat ini lebih banyak mengunyah, memasukkan berbagai pengetahuan, tetapi dipendam, disimpan, tak diolah menjadi perilaku dan akhlak harian. Kita bisa bayangkan, diri kita seperti orang yang memasukkan apa saja ke mulut. Kita makan, kita kunyah, tetapi sama sekali tidak kembali keluar menjadi keringat, menjadi energi, atau sekedar keluar sebagai kotoran. Mengunyah dan terus mengunyah, hingga akhirnya menjadi penyakit dan merusak diri kita.
Kita tahu, Islam mengajarkan menyambung silaturrahmi, tetapi faktanya kita bisa saksikan banyak yang memutus silaturahmi, karena kepentingan pribadi atau kelompok, atau bahkan kepentingan politik sesaat.
Kita tahu bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, penyebab banjir, atau lebih luas, berbahaya bagi lingkungan. Tetapi faktanya kita melihat dari rakyat biasa, pejalan kaki hingga yang bermobil mewah buang sampah sembarangan. Buka kaca mobil, dan keluarlah botol minuman atau plastik sampah di jalan.
Kita tahu pembunuhan itu dosa, tapi setiap hari berbagai kasus pembunuhan berulang-ulang terus terjadi. Lagi dan lagi, angka dan beritanya naik dan terus naik.
Kita tahu bahwa polusi berbahaya bagi kesehatan bumi kita. Tetapi tiap saat jutaan kendaraan yang tak ramah lingkungan bertambah dan terus bertambah tanpa hirau akan akibatnya.
Inilah karakter yang oleh Allah disebut layaknya keledai.
?????? ????????? ????????? ???????????? ????? ???? ???????????? ???????? ?????????? ???????? ?????????? ? ?????? ?????? ????????? ????????? ????????? ???????? ??????? ? ????????? ??? ??????? ????????? ?????????????
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka (kitab suci) Taurat, kemudian mereka tiada menunaikannya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab besar lagi tebal. Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allâh tiada memberi petunjuk bagi kaum yang zhalim” [al-Jumu`ah/62:5]
Ayat ini memberi umpama bagi siapa saja yang memiliki pengetahuan agama yang banyak, tetapi ia tidak mengamalkannya, layaknya keledai yang mengangkut kitab-kitab dipunggungnya, tidak memberi tambahan manfaat, bahkan memberi beban kepadanya.
Karena itu mari dengan ilmu yang ada kita amalkan. Meski sedikit ilmu, tapi semua diamalkan, jauh lebih baik daripada banyak ilmu tetapi tidak bermanfaat sama sekali. Sebab ilmu tanpa manfaat, tidaklah membawa kebahagiaan, justru sebaliknya menjadi sebab bencana abadi, yang akan dituntut nanti di akhirat. Sebagaimana yang telah disabdakan Nabi Muhammad SAW: ??? ???????? ??????? ?????? ?????? ???????????? ?????? ???????? ???? ???????? : ???? ???????? ??????? ?????????? ?????? ???????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???? ?????? ?????????? ????????? ??????????? ?????? ???????? ??????? ?????????
“Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ditanya tentang umurnya, bagaimana ia menghabiskannya; tentang ilmunya; apa yang ia kerjakan dengannya; tentang hartanya, dari manakah dia mendapatkannya dan bagaimana ia membelanjakannya, serta tentang raganya; bagaimana ia mempergunakannya”.
Dengan gadget yang kita miliki, smartphone, tablet, dan lain sebagainya menjadi sarana penguat amal kita. Sebab Islam bukan agama dalil belaka, bukan agama ilmu saja, tetapi sesungguhnya ia adalah agama amal, praktek di dalam kehidupan sehari-hari. Satu helaan bersama nafas mukmin, seiring gerak langkah seorang muslim. Wallahu a’lam

Share :