Direktorat Pendidikan Madrasah mohon maaf atas keterbatasan peserta dalam Festival dan Kompetisi Robotik Madrasahh 2016, semoga tahun berikutnya dapat dilaksanakan dengan lebih maksimal.

Memotret Madrasah Kekinian

Menata-Yang-Terserak-620x400Judul               : Menata Yang Terserak, Akademisi di Pusaran Birokrasi

Penerbit          : Kaukaba Dipantara, Yogyakarta

Cetakan          : Februari 2015

Tebal               : xxvi + 207 halaman

Sejak kecil hingga dewasa saya dididik di madrasah. Mulai dari Madrasah Ibtidaiyah sampai dengan Madrasah Aliyah. Di antara 1988-2000, saya merasakan betul bagaimana kondisi menjadi siswa madrasah. Dari sisi positif, saya merasakan betapa sense ketakziman terhadap nilai-nilai moral-spiritual-religious begitu kental dan terjaga bahkan masih melekat sampai sekarang.  Saya tidak tahu persis apakah ini—konon katanya—karena keikhlasan dan ketulusan para guru yang mengajar kami di madrasah. Mudah-mudahan keikhlasan dan ketulusan tersebut masih tertanam di hati para guru-guru madrasah, di tengah godaan materialisme dan pragmatisme kekinian.

Saya juga merasakan betapa siswa-siswi madrasah memiliki semangat yang kuat untuk berkreasi, berinovasi dan mengekspresikan potensinya di tengah keterbatasan sarana dan prasarana.

Saya juga pernah diajar oleh seorang guru madrasah yang konon tidak pernah sekolah ke perguruan tinggi, namun ilmunya luar biasa dahsyat. Katanya sih, beliau punya ilmu laduni (ilmu pemberian langsung dari Allah). Ada juga guru yang mengajar kami pelajaran tafsir, namun beliau tidak mau dibayar. Beliau selalu datang ke madrasah pagi-pagi benar, sebelum semuanya datang. Pekerjaannya di pagi hari adalah seperti guru BP, memeriksa siswa-siswa yang rambutnya gondrong, yang tidak mengenakan sepatu atau peci. Jika ada siswa yang rapi, memenuhi kriteria beliau, beliau mendoakan kesuksesan bagi siswa tersebut. Jika yang rambutnya gondrong, beliau langsung ambil uang buat siswa tersebut untuk biaya cukur.

Namun, di sisi lainnya, saya mengetahui betul bagaimana bapak dan ibu guru bersusah payah swasembada mencari dana untuk melanjutkan pembangunan madrasah. Saya juga ikut merasakan kepedihan-diam-diam seorang guru yang gajinya pas-pasan sehingga harus buka warung kecil-kecilan di rumah.  Saya merasakan betul—pada saat itu—akses untuk pendidikan ke jenjang lanjut (ke perguruan tinggi) atau mendapatkan beasiswa begitu sulit dan berat, karena kebijakan dan monopoli sebuah kekuasaan tertentu. Saya merasakan ada semacam diskriminasi.

Intinya, saya merasakah bahwa madrasah adalah dunia yang kaya dan unik, yang mungkin tidak ditemukan di sekolah-sekolah umum.

Buku ini adalah buku yang memotret perkembangan dunia madrasah kekinian dan masa depan. Buku ini oleh Direktur Pendidikan Madrasah, Prof. Dr. Phil. M. Nur Kholis Setiawan, MA. Seorang direktur yang membawa gerbong Direktorat Pendidikan Madrasah, sebuah direktorat di bawah Kementerian Agama yang mengurusi dan bertanggung jawab atas pekembangan madrasah di seluruh Indonesia.

Jarang seorang birokrat mau dan sempat menulis apa yang telah dia lakukan. Alasannya tentu beragam, bisa jadi tidak ada waktu. Namun, Nur Kholis menampik anggapan tersebut. Justru dengan menuliskan apa yang dilakukannya, ia telah meninggalkan warisan atau legacy bagi penerusnya (hlm. xviii). Tentu saja, buku ini bisa menjadi contoh bagi para birokrat untuk belajar menuangkan kenangan-pekerjaannya di sebuah tulisan agar bisa dibaca oleh orang lain.

Menata Yang Terserak: Akademisi di Pusaran Birokrasi adalah judul yang menarik. Nur Kholis awalnya adalah seorang akademisi, dosen Tafsir, yang kemudian diangkat menjadi seorang Direktur. Tugasnya adalah menata manajemen organisasi yang terserak oleh kondisi yang kurang baik. Tujuannya adalah agar madrasah lebih baik, memiliki kualitas dan mutu yang berdaya saing sehingga madrasah menjadi pilihan utama, bukan pilihan alternatif (hlm. xx).

Buku ini adalah rekam jejak Nur Kholis dalam memanajemeni Direktorat Pendidikan Madrasah selama 1 tahunan. Saya meringkas ada empat hal penting dalam buku ini.

Pertama, madrasah adalah masa depan Islam nusantara. Banyaknya madrasah di Indonesia merupakan investasi basar bagi bangsa ini. Oleh sebab itu pengelolaannyapun tidak bisa sembarangan. Sejarah sudah membuktikan bahwa para pemimpin di Indonesia adalah jebolan dari madrasah.

Kedua, menyemai diversifikasi (keragaman) madrasah adalah kebijakan yang memberikan peluang besar bagi madrasah untuk berkembang. Diversifikasi adalah kebijakan yang Nur Kholis ambil ketika melihat begitu banyak dan beragamnya potensi yang dimiliki madrasah. Diversifikasi ini kemudian diwadahi ke dalam empat tipologi madrasah (akademik, keagamaan, kejuruan dan reguler) yang sekarang sedang dikembangkan melalui program-program unggulan. (hlm.79-90). Namun sayangnya, dalam buku ini tidak ada elaborasi yang lebih jauh dan detail tentang implementasi kebijakan diversifikasi, kecuali hanya Madrasah Akademik (yang diwakili dengan MAN Insan Cendekia), namun untuk tipologi lainnya rasanya masih kurang elaborasi. Saya kira untuk menjelaskan diversifikasi madrasah bahkan perlu ditulis tersendiri dalam sebuah buku, supaya gagasannya utuh, komprehensif, direktif dan implementatif.

Ketiga, Direktorat Pendidikan Madrasah adalah ‘orangtua’nya madrasah-madrasah di seluruh Indonesia. Orangtua yang baik adalah orangtua yang mengerti potensi anaknya dan mengetahui bagaimana cara mengembangkan potensi tersebut. Melalui lima Sub Direktorat ini (Kelembagaan-Kerjasama, Kesiswaan, Kurikulum-Evaluasi, Sarana dan Prasarana, Pendidikan dan Tenaga Kependidikan), program-program pengembangan madrasah disetting dan diimplementasikan. Lima sub Direktorat itulah yang juga mengurusi berbagai masalah yang sering muncul. Nur Kholis mencatat adalah lima persoalan penting yang sering menjadi ‘penyakit’ di Direktorat Pendidikan Madrasah, yakni Pengadaan Barang dan Jasa, Bantuan Sosial (Bansos), Bantuan Siswa Miskin (sekarang berubah menjadi KIP/Kartu Indonesia Pintar), BOS (Bantuan Operasional Sekolah), dan Tenaga Pendidik-Kependidikan.

Keempat, Buku ini merekam sejumlah prestasi madrasah terkini baik tingkat nasional maupun internasional. Tentu, tidak banyak orang yang mengetahui prestasi siswa-siswi madrasah. Mungkin karena keterbatasan diseminasi informasi tentang prestasi ini. Buku ini menjembatani pembaca untuk mengetahui sejauh mana prestasi anak-anak madrasah terkini. ‘Derita-derita’ yang saya rasakan dulu ketika duduk di bangku madrasah, sudah tidak dirasakan lagi oleh siswa-siswi madrasah sekarang, karena mutu dan kualitas madrasah sudah mulai meningkat. Dan buku ini menjadi penanda kebangkitan madrasah tersebut.

Walhasil, buku ini layak untuk dibaca bagi pemerhati pendidikan Islam, guru-guru madrasah, serta siswa-siswi madrasah, supaya mereka mengetahui pemasalahan madrasah selama ini, serta perkembangannya. Dua Pengantar yang diberikan oleh KH. M. Tolchah Hasan (Mantan Menteri Agama, periode Gus Dur)—yang  mengingatkan kepada pembaca dan pengelola pendidikan madrasah agar tidak kehilangan etos kemadrasahan—dan oleh KH. Sholahudin Wahid (Gus Sholah, adik kandung Gus Dur)—yang mengingatkan agar aspek kognitif dan afektif tetap menjadi garapan madrasah—semakin menguatkan dan memberikan frame bahwa buku ini penting untuk dibaca.

Terakhir, saya merasakan buku ini tidak cukup berhenti di sini, harus ada buku Menata Yang Terserak ke-2, yang memotret perkembangan madrasah dalam beberapa tahun ke depan, mengingat banyaknya kebijakan-kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait dengan pendidikan.

Diresensi oleh Hamam Faizin, Alumni Madrasah Salafiyah, Kajen Margoyoso, Pati, Jawa Tengah     

3139 Total Views 9 Today Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *